Tari Lalayon, Tari Cinta dari Tanah Halmahera

0
48
views
Pemuda (i) Halmahera menarikan Tari Lalayong. (Foto: Mariati Atkah)
Pemuda (i) Halmahera menarikan Tari Lalayon. (Foto: Mariati Atkah)

The Jakarta Portal/Mariati Atkah, Halmahera — Etha C. Labadu berdiri tenang-tenang di sudut lapangan. Di bawah siraman matahari, saya melihat ia berkilau seperti putri; berkain ungu cerah, lenso berwarna senada, dan mahkota keemasan menghiasi rambutnya. Di belakang punggungnya ada Irnawati, Rusban Wahab dan Yudhis Kamah diam dengan ketenangan yang sama. Mereka tak lari mencari teduhan walau peluh membanjir di balik pakaian adat Maluku Utara yang mereka kenakan.

Dari pelantang suara terdengar sejenis irama Melayu mengantarkan keempat siswa SMA Negeri 12 Halmahera Timur itu ke tengah pelataran. Waktu kaki mereka mulai bergerak, berpasang-pasang mata terpukau pada semesta yang tiba-tiba menyusut menjadi seluas lapangan basket sekolah.

Sulit bagi para penari lelaki itu untuk berhenti memandang raut perempuan di hadapan mereka. Sedangkan yang dipandang memberi senyum kecil saja. Entah pura-pura, entah benar-benar suka. Senyum yang menderaskan aliran darah, membikin gaduh detak dada. Mata bertemu mata. Bersitatap. Kata-kata mampat oleh isyarat. Bujuk rayu ditukar gerak tubuh berbalasan sejauh sentuhan ujung jemari berlapis sapu tangan.

Dua pasang penari itu kemudian berputar-putar. Setiap gerakan berikutnya mewakili segala perasaan yang malu-malu untuk diakui, yang tenggelam maupun mengapung di bawah langit Buli. Perasaan yang mengharu biru, tak kenal jemu. Lelaki terus bertanya dalam pandangan: milikkukah engkau? Namun segala kemungkinan atas iya atau tidak itu harus berakhir di ujung musik yang makin pelan, menyingkirkan mereka dari pelataran bersama segala kemesraan yang telah dipertunjukkan dengan sangat baik.

* * *

Di tanah Halmahera, tari pergaulan yang dikuasai oleh gerak tangan melambai dan langkah kaki itu dinamai tari Lalayon. Syair cinta, religi, kegembiraan, kesedihan, harapan, dan perjuangan mengiringi tabuhan tifa dan gesekan viol. Sekurang-kurangnya empat orang selalu tampil berpasangan pada acara pernikahan, penyambutan tamu,  pesta rakyat atau acara apapun yang butuh hiburan.

Tari Lalayon, jamak disebut tari Lala, muncul bersamaan dengan berdirinya negeri Gamrange atau Tiga Negeri Bersaudara yang terdiri dari Maba, Patani dan Weda, sehingga tarian ini menjadi serat pengikat ketiga wilayah tersebut. Namun karena gerakannya sederhana dan mudah dipelajari, sehingga dengan cepat menyebar ke berbagai daerah di sekitarnya.

Sependek pengetahuan saya, ada dua kisah tentang asul-usul tarian ini. Kisah pertama menceritakan Lalayon terlahir dari duka seorang suami karena ditinggal wafat oleh istri dan anaknya. Sebagai penghibur hati, ia terus menerus berzikir ‘Laa Ilaha Illallah’. Tiada Tuhan Selain Allah. Bentuk pernyataan cinta yang mutlak kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya terhadap putusan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Zikir itu diulang-ulang, sehingga terdengar seperti ‘Laila’ yang kemudian dilafalkan ‘Lala’.

Kisah kedua saya dengar dari Zainal Sahabuddin, putra Patani yang melatih tari di SMA Negeri 1 Halmahera Timur. Hikayat ini terjadi pada suatu waktu yang tak diketahui siapapun. Seorang anak, entah ditimpa kesedihan apa, terus menangis seolah ingin menguras seluruh tabungan air matanya. Ia tak mau diam, sekalipun dilimpahi air susu ibunya. Ketika itulah, terdengar siulan Manailal—sejenis burung pemakan ikan—yang menentramkan si anak lara. Jadi menurut kisah ini, Lala berasal dari nama burung Ilal, dan orang-orang berusaha memindahkan bunyi hempasan ombak pada tifa.

* * *

Sebagai seorang pelatih tari, Zainal Sahabuddin bukan hanya bertugas untuk membuat siswa menggerakkan anggota tubuh sebagaimana seharusnya. Ia memikul tanggung jawab sebagai penempa jiwa siswa-siswanya melalui jalan tari, membangun karakter mereka dengan cara menanamkan pemahaman filosofis atas nilai-nilai dalam Lalayon.

Tari ini tidak hanya bermakna hubungan kasih antara muda-mudi saja, namun juga memuat nilai cinta universal. Gerakan-gerakannya yang gemulai menunjukkan kesantunan, sikap hormat, dan penerimaan yang tulus. Tentu saja, tari ini  juga mengajarkan kesabaran dan konsentrasi untuk mengatur gerakan agar padu sesuai irama, melatih kepekaan, serta mengasah tata krama dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Namun secara umum di Halmahera Timur, saya pribadi melihat penanaman nilai-nilai itu belum menjadi sebuah usaha sadar untuk diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Terlepas dari hal tersebut, harapan saya tetap besar melihat semangat anak-anak sekolah untuk tetap menari. Sekurang-kurangnya demikian. Sebab menari bukan hanya agar mereka punya sesuatu yang baik untuk dilakukan, tetapi juga menjadi cara untuk menghargai apa yang diwariskan oleh leluhurnya. Sesuatu yang mereka miliki. Sesuatu yang disebut identitas.

Identitas maupun karakter dibangun melalui jalan panjang, terbentuk melalui serangkaian pengalaman yang seringkali tidak mudah. Karaker berbicara tentang hati. Jika menari hanya sekedar menggerakkan tubuh, maka tak akan ada bedanya dengan berjalan kaki atau memanjat pohon. Gerak diperlukan untuk membangun tubuh. Sedangkan nilainya perlu dipahami agar sang penari berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. Tubuh dan hati harus sama-sama dirawat, sebab sebagaimana bunyi salah satu petikan syair Lalayon:

Pisi badan reni lolou
Pisi wlowta nut fimotau
(Sakit badan bisa diobati
Sakit hati dibawa mati)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 2 =