Difteri Kembali Merebak, Masyarakat Harus Sadar Pentingnya Imunisasi Pada Anak

0
22
views

THEJAKARTAPORTAL.com — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah merilis data bahwa sebanyak 95 Kab/kota dari 20 provinsi telah melaporkan kasus penyakit difteri hingga November 2017.

Difteri adalah penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri Corynebacterium yang memiliki efek serius pada selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit ini dapat menyebar melalui udara, benda pribadi, serta alat rumah tangga yang terkontaminasi.

Penyakit difteri bukanlah penyakit yang baru melainkan penyakit yang telah lama dikenal dan sudah ada vaksinnya.

Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi, penyakit ini sebenarnya sudah hampir tidak ada pada tahun 1990-an, namun muncul kembali pada tahun 2009. Kejadian ini kemudian membuat pemerintah melalui Kemenkes menerbitkan peraturan menteri kesehatan yang menetapkan apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis, maka dinyatakan sebagai kasus luar biasa atau KLB.

“Satu kasus suspect saja, itu sudah dianggap kejadian luar biasa, dimana pemerintah harus memastikan dilakukan tindakan-tindakan agar tidak menyebar,” Kata Jane, dilansir dari portal berita bbc Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jose Rizal Latief mengatakan bahwa penyakit ini bisa menyebabkan kematian karena sumbatan saluran nafas yang diakibatkan oleh difteri.

“Difteri itu gejalanya radang nafas dan ada selaput putih (pada tenggorokan dan amandel) dan gampang berdarah, toksinnya berbahaya serta bisa bikin kelainan jantung, meninggal,” kata Jose.

Menurut data World Health Organization (WHO), tercatat sebanyak 7,097 kasus difteri yang dilaporkan pada tahun 2016 di seluruh dunia, dimana Indonesia menyumbang 342 kasus.

Penyakit yang banyak menyerang anak ini sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Vaksin untuk imunisasi difteri ada tiga jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT dan vaksin Td yang diberikan pada usia yang berbeda.

Imunisasi pertama dilakukan pada bayi dibawah satu tahun sebanyak tiga kali DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan. Setelah itu dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan (booster) pada umur 18 bulan.

Dengan adanya kejadian luar biasa ini, masyarakat harusnya sadar betapa pentingnya imunisasi pada anak. Pemerintah juga harus lebih tegas lagi dalam memastikan anak-anak Indonesia telah menjalani imunisasi yang lengkap agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two − 2 =