The Jakarta Portal
Sekelompok Remaja Sedang Menarikan Tari Lalayon. Foto Oleh Mariati Atkah

Tari Lalayon, Tari Cinta dari Tanah Halmahera

Sebagai seorang pelatih tari, Zainal Sahabuddin bukan hanya bertugas untuk membuat siswa menggerakkan anggota tubuh sebagaimana seharusnya. Ia memikul tanggung jawab sebagai penempa jiwa siswa-siswanya melalui jalan tari, membangun karakter mereka dengan cara menanamkan pemahaman filosofis atas nilai-nilai dalam Lalayon.

Tari ini tidak hanya bermakna hubungan kasih antara muda-mudi saja, namun juga memuat nilai cinta universal. Gerakan-gerakannya yang gemulai menunjukkan kesantunan, sikap hormat, dan penerimaan yang tulus. Tentu saja, tari iniĀ  juga mengajarkan kesabaran dan konsentrasi untuk mengatur gerakan agar padu sesuai irama, melatih kepekaan, serta mengasah tata krama dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Namun secara umum di Halmahera Timur, saya pribadi melihat penanaman nilai-nilai itu belum menjadi sebuah usaha sadar untuk diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Terlepas dari hal tersebut, harapan saya tetap besar melihat semangat anak-anak sekolah untuk tetap menari. Sekurang-kurangnya demikian. Sebab menari bukan hanya agar mereka punya sesuatu yang baik untuk dilakukan, tetapi juga menjadi cara untuk menghargai apa yang diwariskan oleh leluhurnya. Sesuatu yang mereka miliki. Sesuatu yang disebut identitas.

Identitas maupun karakter dibangun melalui jalan panjang, terbentuk melalui serangkaian pengalaman yang seringkali tidak mudah. Karaker berbicara tentang hati. Jika menari hanya sekedar menggerakkan tubuh, maka tak akan ada bedanya dengan berjalan kaki atau memanjat pohon. Gerak diperlukan untuk membangun tubuh. Sedangkan nilainya perlu dipahami agar sang penari berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. Tubuh dan hati harus sama-sama dirawat, sebab sebagaimana bunyi salah satu petikan syair Lalayon:

Pisi badan reni lolou
Pisi wlowta nut fimotau
(Sakit badan bisa diobati
Sakit hati dibawa mati)
Mariati Atkah

Mariati Atkah

Penulis puisi, cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah muncul di harian Fajar, Koran Tempo Makassar, Tribun Timur, Suara NTB, Malut Post, dan beberapa antologi puisi. Sekarang bekerja sebagai Program Officer untuk ProVisi Education divisi School Development Program di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Add comment

eighteen − 7 =

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.