The Jakarta Portal
Sekelompok Remaja Sedang Menarikan Tari Lalayon. Foto Oleh Mariati Atkah

Tari Lalayon, Tari Cinta dari Tanah Halmahera

Di tanah Halmahera, tari pergaulan yang dikuasai oleh gerak tangan melambai dan langkah kaki itu dinamai tari Lalayon. Syair cinta, religi, kegembiraan, kesedihan, harapan, dan perjuangan mengiringi tabuhan tifa dan gesekan viol. Sekurang-kurangnya empat orang selalu tampil berpasangan pada acara pernikahan, penyambutan tamu,  pesta rakyat atau acara apapun yang butuh hiburan.

Tari Lalayon, jamak disebut tari Lala, muncul bersamaan dengan berdirinya negeri Gamrange atau Tiga Negeri Bersaudara yang terdiri dari Maba, Patani dan Weda, sehingga tarian ini menjadi serat pengikat ketiga wilayah tersebut. Namun karena gerakannya sederhana dan mudah dipelajari, sehingga dengan cepat menyebar ke berbagai daerah di sekitarnya.

Sependek pengetahuan saya, ada dua kisah tentang asul-usul tarian ini. Kisah pertama menceritakan Lalayon terlahir dari duka seorang suami karena ditinggal wafat oleh istri dan anaknya. Sebagai penghibur hati, ia terus menerus berzikir ‘Laa Ilaha Illallah’. Tiada Tuhan Selain Allah. Bentuk pernyataan cinta yang mutlak kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya terhadap putusan apapun yang terjadi dalam hidupnya. Zikir itu diulang-ulang, sehingga terdengar seperti ‘Laila’ yang kemudian dilafalkan ‘Lala’.

Kisah kedua saya dengar dari Zainal Sahabuddin, putra Patani yang melatih tari di SMA Negeri 1 Halmahera Timur. Hikayat ini terjadi pada suatu waktu yang tak diketahui siapapun. Seorang anak, entah ditimpa kesedihan apa, terus menangis seolah ingin menguras seluruh tabungan air matanya. Ia tak mau diam, sekalipun dilimpahi air susu ibunya. Ketika itulah, terdengar siulan Manailal—sejenis burung pemakan ikan—yang menentramkan si anak lara. Jadi menurut kisah ini, Lala berasal dari nama burung Ilal, dan orang-orang berusaha memindahkan bunyi hempasan ombak pada tifa.

Mariati Atkah

Mariati Atkah

Penulis puisi, cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah muncul di harian Fajar, Koran Tempo Makassar, Tribun Timur, Suara NTB, Malut Post, dan beberapa antologi puisi. Sekarang bekerja sebagai Program Officer untuk ProVisi Education divisi School Development Program di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Add comment

seventeen − 12 =

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.